Cantiknya dia bagai mutiara dalam lumpur.
Senyumannya membuat aku terbangun; aku tahu kau menginginkan sesuatu.
Tatapan wajahmu dapat membuat hakim lesu memukul kencang gadanya; anda tak bersalah.
Kutapaki ribuan kilo mencari letak kebenaran. Namun maya, kebenaran hanyalah kabut.
Sia-sia aku berjalan. Tumpukan orang benar bersimbah dusta; apakah kelak aku disana? Hidup membela kebenaran dan mati disiram caci dusta?
Bola mata cantik itu melirikku. Ratusan lembar uang miliknya dapat membebaskan dia dari hotel rodeo. Sedangkan aku yang tidak melakukannya akan tidur di hotel Rodeo 10 tahun kedepan. Wanita cantik dan uang yang berhamburan.
I didn't know you, now did I, boy?
Pulang bareng. Gue cuma bisa; " Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..."
Dan gue gak pernah seangkot atau ketemu lagi sama dia. Juga gue udah sangat lupa dan tidak pernah mikir dia lagi.
Not again, not again!
Tapi,
200110,
Alias Rabu, 20 Januari 2010,
I'm in love again
It's too late now...
Setiap hari, saya selalu disana. Tak kenal panas, hujan, badai, bahkan apapun yang terjadi diluar sana.
Ya, saya tetap disana. Layaknya orang buta, orang tersesat, orang yang tidak beroreintasi.
Semuanya serius. Apapun yang terjadi, mereka selalu menganggap semuanya itu dengan serius.
Mereka telah mendapatkan kunci mereka masing-masing. Menggenggamnya, hingga kunci itu lepas semudah pasir.
Saya?
Masih mencari kunci tersebut layaknya orang mabuk mencari kacamata yang sedang ia pakai.
Bodoh!
Apa yang saya lakukan ini? Harusnya saya juga mengerti kehidupan pola geometri, runtutan teka-teki kehidupan fibonacci, hypotenusa dari sisi manusia yang lain.
Bodoh!
Seharusnya saya mengerti!
Sisi lain terkecil dari kita, atom-atom kehidupan. Natrium-natrium yang dapat menjadi pisau tajam didunia nyata, sesuatu yang akan berguna jika dia mengubah dirinya, dan sisi filosofis didalamnya.
Bodoh!
Seharusnya saya tahu!
Bahwa semua hal kecil dapat saya perhitungkan. Hal sepele yang tidak dapat menarik perhatian saya, ternyata itu sebuah kunci.
Apa yang terjadi semua?
Saya tidak bisa mengerti mereka, mereka tidak bisa saya mengerti.
Apa yang salah dari saya?
Saya telah coba menyelam dan sesak nafas untuk mencari hal yang hilang; kunci yang hilang, potongan puzzle yang hilang, keseimbangan yang hilang, makna yang hilang, dan jawaban yang hilang.
Semuanya tidak dapat saya raih. Mengambang dikepala saya. Saya coba raih, namun itu sesulit meraih kabut malam.
Apa yang salah?
Ini semua akan sia-sia.
Hanya buang enerji dan materi.
Lalu, hanya kosong.
Saat pertama, mengenal kamu, lewat poster-poster yang merusak alam.
Wajah-wajah yang egois, wajah wajah bengis, dan wajah-wajah bangga, kamu selipkan dibalik poster.
Poster yang tergantung, mematikan kami perlahan-lahan.
Wajah yang simpatik, dan wajah yang teduh, kamu pakai itu. Beberapa tahun yang lalu.
Entah dimana kamu buat perisai diwajahmu itu.
Membuat orang-orang disekelilingmu kagum, termasuk saya.
Saat pertama, kamu berikan tangan, kamu berikan mata itu.
Pada saya, dan mereka, yang didera panasnya kehidupan dunia.
Dan senyum yang tak pernah terlepas, karena saya tahu, itu hanya perisai yang ketika kau lelah, kau akan lepas juga.
Saat itu, mungkin bulan Oktober.
Saya kurang paham apa makna yang kamu umbarkan.
Dijalanan penuh ratapan kemelaratan, kamu injak dengan beberapa hentakan ketakutan.
Keserakahan yang menggerogoti kerongkongan, melilit disekuur tubuhmu.
Ratusan keping, jutaan keping, hanya untuk menutup perisaimu yan telah kau hancurkan sendiri.
Tahun lalu, saya melihat mereka dengan baju blus dan kemeja rapi dengan senyum yang luarbiasa. Harum senyawa dari kepercayaan diri yang dibangunnya baru beberapa bulan yagn lalu.
Sekarang , saya lihat lagi, mereka menumpahkan air mineral kekepalanya, dengan senyum entah kemana, pandangan entah kesiapa. Menari diatas aspal, menakuti anak-anak sekolah. Merentas jalanan yang dulu mereka lalui dengan kuda besi mereka. Sekarang hanya dengan menyeretkan kaki. Racun dan kematian menggoda mereka untuk lepas dari bayangan hitam mereka. Mata pisau yang tajam, begitu menggoda seperti madu dalam mangkuk emas bagi mereka.
Lalu beberapa dari mereka...
...Mengutuk poster, mengutuk jalan, mengutuk bangunan, mengutuk dirinya sendiri.
Kemana?
Ternyata kita telah ditipu, oleh perisai kamu, yang kamu banggakan.
Omong kosong sejuta jilatan; penjilat Era 22
Siapa? Siapa yang bisa bisikan ketelinga mu yang disumbat oleh rasa kemenangan?
Kapan? Kamu sadar atas semua yang kamu selesaikan ini?
Tak usah kamu berbusa-busa bicara, karena maaf saya sudah bangun dari tidur berkepanjangan saya.
Sekarang, telingamu sudah tidak bisa mendengar.
Matamu ditipu ilusi.
Hidungmu? Bahkan dimana?
Hatimu? Mungkin tenggelam dililit nadi kemenangan yang selalu kamu banggakan, dan selalu membusungkan dada setiap kam u melangkah dan dongakkan kepala. Atau masih ada? hanya saya tidak bisa melihatnya.
Sudahlah, hanya masa yang bisa memakan kamu.
Hanya Masa yang dapat memperlihatkan semuannya.
Biar pembuatmu saja yang menghancurkanmu; tenggelam dalam luapan emosi; bahan baku seperti dari matahari, atau terdampar ditempat gelap, yang bahkan kamu tidak tahu itu dimana.