Tampilkan postingan dengan label Rentetan peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rentetan peristiwa. Tampilkan semua postingan

Rayuan Kertas

0

Posted by NavigatoRusak | Posted in

Cantiknya dia bagai mutiara dalam lumpur.
Senyumannya membuat aku terbangun; aku tahu kau menginginkan sesuatu.

Tatapan wajahmu dapat membuat hakim lesu memukul kencang gadanya; anda tak bersalah.

Kutapaki ribuan kilo mencari letak kebenaran. Namun maya, kebenaran hanyalah kabut.
Sia-sia aku berjalan. Tumpukan orang benar bersimbah dusta; apakah kelak aku disana? Hidup membela kebenaran dan mati disiram caci dusta?

Bola mata cantik itu melirikku. Ratusan lembar uang miliknya dapat membebaskan dia dari hotel rodeo. Sedangkan aku yang tidak melakukannya akan tidur di hotel Rodeo 10 tahun kedepan. Wanita cantik dan uang yang berhamburan.

Dunia itu sempit!

0

Posted by NavigatoRusak | Posted in

Rabu, 20 JANUARI 2010
Gue mau les. Karena hari itu saya BK, gue boleh pulang cepet.
Gue nungguin temen dulu, di 10-2.
Terus nungguin Sarah di 10-7.
Gue akhirnya pergi bareng Sarah, karena Rizki (10-2) itu ada ngumpul eskul. Hem, yah kami akhirnya jalan berdua aja.
Dan kami ngobrolin tentang jamur. Tugas kami buat biologi.
Dan akhirnya angkot kami berhenti di Simpang Dago.
Kami jalan. Waktu itu agak becek.
Dan...
Ketika gue buka pintu kelas gue...
***
Ada...
Satu orang,
Laki-laki,
Putih,
Pernah lihat,
Gak Asing lagi.

GOD.

He must be my...
...ex...crush

It was you, all the time.

Gue duduk dengan kagetnya.
Duduk dibelakang dia.
Hm.
Udah 17 bulan.
Gak ketemu dia.
Gak pernah lagi.

Dan ketika pelajaran Trigonometri, gue inget-inget lagi. Kenapa dan kapan gue pertama kali ketemu.

***
1.5 years ago...

Gue dan dia sering seangkot. Yah, lebihnya gitu sih, layaknya orang yang belum kenal aja...
Cuma liat-liat dan diem. Kami sering seangkot, karena jam pulang sekolah dan jurusan kami pulang itu sama.

Waktu itu juga, gue les, dan ternyata ketika gue mau minta konsultasi bahasa inggris, guru bahasa inggrisnya gak bisa dateng ketempat les gue. Dan otomatis, gue dkk harus kecabang terdekat.
Terus masuk, then...
Gue masuk dan ternyata....

Dia les di Cabang itu. Dan gue ternyata masuk kelas dia.

I didn't know you, now did I, boy?

Hem... gue tau sekarang nama dia.

Dan beberapa bulan kemudian, dia ke dateng tempat les gue buat liat hasil try out.
Voila!
Hasil Try out dia ada di PAGE ONE.
Alias Ranking tinggi. Oh my gooooooooood... I'mma such a fool!

Oke, dari mulai sana, gue jadi lebih sering seangkot sama dia. Tapi gue masih belum kenal sama dia. Yah, gue gak berani lah..

Then, several weeks, i met him again, then he brought someone behind him,
HOLLY-MOLLY SHE IS MY FREEEEEEEEEENZZZZZ!

MEREKA PULANG BERDUA SAUDARA-SAUDARA!


Ok, Breathless? Nope.

Ternyata dia pulang bareng cewek. Dan ceweknya itu adalah, temen gue.
Gue cengar-cengir aja sama dia. Temen gue ngajak gue sedikit chit-chat dan dia juga chit-chat sama Orang-yang-itu. Sambil ketawa-ketiwi.
D'oh! Gue serasa KambingCongek.

Wheeeeyaaaah..
Setelah itu gue buka friendstaaah (jaman kapan bu?) temen gue.
Then, yeaaah, she got a lot of their photo(S). Wif him of course.

Huhuhu....


Okelah.. That wasn't a big deal.

Sejak itu, gue jadi jaraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget seangkot sama dia.   
Then, i had forgotten him.
***
A Graduation,
Bikin gue ketemu lagi sama dia for a several month.
Gue ketemu DIA dan TEMEN GUE.

BERDUA (lagi) SAUDARA-SAUDARA !


Pulang bareng. Gue cuma bisa; " Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah..."

Dan gue gak pernah seangkot atau ketemu lagi sama dia. Juga gue udah sangat lupa dan tidak pernah mikir dia lagi.
Not again, not again!

Tapi,
200110,
Alias Rabu, 20 Januari 2010,
VOILA, 
He came to my life again!

Ketika dia udah gak ada dipikiran gue.
Bener-bener 100% hilang.
Dan ketika gue buka pintu Ruang 2 ,

Ada Dia, duduk didalamnya.



"...And now I find , It was you all the time.
I'm in love again
It's too late now...
I'm in love again, love again, it's too late.. "

-Kings Of Convenience (Singing softly to me)


Empty itu Kosong

0

Posted by NavigatoRusak | Posted in

Setiap hari, saya selalu disana. Tak kenal panas, hujan, badai, bahkan apapun yang terjadi diluar sana.
Ya, saya tetap disana. Layaknya orang buta, orang tersesat, orang yang tidak beroreintasi.
Semuanya serius. Apapun yang terjadi, mereka selalu menganggap semuanya itu dengan serius.
Mereka telah mendapatkan kunci mereka masing-masing. Menggenggamnya, hingga kunci itu lepas semudah pasir.
Saya?
Masih mencari kunci tersebut layaknya orang mabuk mencari kacamata yang sedang ia pakai.
Bodoh!
Apa yang saya lakukan ini? Harusnya saya juga mengerti kehidupan pola geometri, runtutan teka-teki kehidupan fibonacci, hypotenusa dari sisi manusia yang lain.
Bodoh!
Seharusnya saya mengerti!
Sisi lain terkecil dari kita, atom-atom kehidupan. Natrium-natrium yang dapat menjadi pisau tajam didunia nyata, sesuatu yang akan berguna jika dia mengubah dirinya, dan sisi filosofis didalamnya.
Bodoh!
Seharusnya saya tahu!
Bahwa semua hal kecil dapat saya perhitungkan. Hal sepele yang tidak dapat menarik perhatian saya, ternyata itu sebuah kunci.

Apa yang terjadi semua?
Saya tidak bisa mengerti mereka, mereka tidak bisa saya mengerti.

Apa yang salah dari saya?

Saya telah coba menyelam dan sesak nafas untuk mencari hal yang hilang; kunci yang hilang, potongan puzzle yang hilang, keseimbangan yang hilang, makna yang hilang, dan jawaban yang hilang.

Semuanya tidak dapat saya raih. Mengambang dikepala saya. Saya coba raih, namun itu sesulit meraih kabut malam.

Apa yang salah?

Ini semua akan sia-sia.
Hanya buang enerji dan materi.

Lalu, hanya kosong.

Ketidak-tahuan

0

Posted by NavigatoRusak | Posted in

Saat pertama, mengenal kamu, lewat poster-poster yang merusak alam.
Wajah-wajah yang egois, wajah wajah bengis, dan wajah-wajah bangga, kamu selipkan dibalik poster.

Poster yang tergantung, mematikan kami perlahan-lahan.

Wajah yang simpatik, dan wajah yang teduh, kamu pakai itu. Beberapa tahun yang lalu.
Entah dimana kamu buat perisai diwajahmu itu.
Membuat orang-orang disekelilingmu kagum, termasuk saya.

Saat pertama, kamu berikan tangan, kamu berikan mata itu.
Pada saya, dan mereka, yang didera panasnya kehidupan dunia.

Dan senyum yang tak pernah terlepas, karena saya tahu, itu hanya perisai yang ketika kau lelah, kau akan lepas juga.

Saat itu, mungkin bulan Oktober.
Saya kurang paham apa makna yang kamu umbarkan.
Dijalanan penuh ratapan kemelaratan, kamu injak dengan beberapa hentakan ketakutan.
Keserakahan yang menggerogoti kerongkongan, melilit disekuur tubuhmu.

Ratusan keping, jutaan keping, hanya untuk menutup perisaimu yan telah kau hancurkan sendiri.

Tahun lalu, saya melihat mereka dengan baju blus dan kemeja rapi dengan senyum yang luarbiasa. Harum senyawa dari kepercayaan diri yang dibangunnya baru beberapa bulan yagn lalu.

Sekarang , saya lihat lagi, mereka menumpahkan air mineral kekepalanya, dengan senyum entah kemana, pandangan entah kesiapa. Menari diatas aspal, menakuti anak-anak sekolah. Merentas jalanan yang dulu mereka lalui dengan kuda besi mereka. Sekarang hanya dengan menyeretkan kaki. Racun dan kematian menggoda mereka untuk lepas dari bayangan hitam mereka. Mata pisau yang tajam, begitu menggoda seperti madu dalam mangkuk emas bagi mereka.

Lalu beberapa dari mereka...

...Mengutuk poster, mengutuk jalan, mengutuk bangunan, mengutuk dirinya sendiri.

Kemana?

Ternyata kita telah ditipu, oleh perisai kamu, yang kamu banggakan.
Omong kosong sejuta jilatan; penjilat Era 22

Siapa? Siapa yang bisa bisikan ketelinga mu yang disumbat oleh rasa kemenangan?

Kapan? Kamu sadar atas semua yang kamu selesaikan ini?

Tak usah kamu berbusa-busa bicara, karena maaf saya sudah bangun dari tidur berkepanjangan saya.

Sekarang, telingamu sudah tidak bisa mendengar.
Matamu ditipu ilusi.
Hidungmu? Bahkan dimana?
Hatimu? Mungkin tenggelam dililit nadi kemenangan yang selalu kamu banggakan, dan selalu membusungkan dada setiap kam u melangkah dan dongakkan kepala. Atau masih ada? hanya saya tidak bisa melihatnya.

Sudahlah, hanya masa yang bisa memakan kamu.
Hanya Masa yang dapat memperlihatkan semuannya.
Biar pembuatmu saja yang menghancurkanmu; tenggelam dalam luapan emosi; bahan baku seperti dari matahari, atau terdampar ditempat gelap, yang bahkan kamu tidak tahu itu dimana.